Kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara, telah menjadi faktor krusial yang dipertimbangkan oleh wisatawan dalam memilih destinasi wisata saat ini. sebagai salah satu kawasan wisata yang berkembang di Papua Barat Daya yang memiliki beberapa objek wisata alam minat khusus sementara ini menghadapi tantangan polusi udara perkotaan yang berpotensi mempengaruhi daya tariknya. Kabut asap ini sangat mempengaruhi kualitas udara dan juga membatasi jarak pandang ideal dalam aktifitas berwisata, sehingga merugikan para pelaku usaha wisata dan juga pelaku usaha ekonomi kreatif yang menggantungkah hidup dari aktifitas pariwisata.
Sampai awal oktober ini berdapat beberapa rencana perjalanan wisatawan manca negara ke papua barat daya yang mengalami perubahan jadwal kunjungan hingga pembatalan diakibatkan oleh kualitas udara yang kurang baik. Aktifitas kunjungan wisatawan lokal pun mengalami tren negatif pada beberapa destinasi faforit di Papua Barat Daya dan khususnya Kota Sorong. Terdapat beberapa destinasi wisata yang paling terdampak diantaranya objek wisata bahari, wisata kuliner, serta objek wisata minat khusus seperti pengamatan satwa liar di kawasan cagar alam.

Kondisi udara dan jarak pandang akibat asap sangat mengganggu kenyamanan dan keselamatan wisatawan karena dapat mengurangi durasi waktu kunjungan wisatawan di luar ruangan, sehingga mengharuskan para wisatawan mengubah-ubah itinerary. Sebagaimana yang kita rasakan saat ini bahwa untuk beraktifitas di luar ruangan saja sangat beresiko besar terhadap kesehatan jasmani, hanya karena desakan kebutuhan ekonomi yang tidak mengenal henti makanya aktifitas di luar ruangan pun terpaksa harus terus dijalankan. Sektor yang dirasakan sangat memberi multiplier effect pada ekonomi mikro adalah sektor pariwisata diantaranya pemandu wisata, agen perjalanan, penginapan, transportasi wisata, UMKM, dan pelaku ekonomi kreatif. yang mana semua stakeholder merasakan nilai manfaat ekonominya serta sektor ini minim dampak negatif pada lingkungan.
Potensi dampak yang lebih besar jika kabut asap berlangsung dalam waktu lama sudah pasti pada kesehatan manusia, flora dan fauna serta kerusakan yang sangat kompleks pada ekosistem hutan dan lahan, disisi lain dapat melumpuhkan semua sektor potensial secara ekonomi. Yang paling dikhawatirkan terhadap masa depan pariwisata jika kondisi ini terus berlangsung adalah rusaknya habitat flora dan fauna yang menjadi daya tarik wisata serta terhentinya aktifitas masyarakat pengelola destinasi wisata dan para pelaku usaha ekonomi kreatif, sehingga memperburuk perputaran roda ekonomi di masyarakat.
Pesan dari kami tetap memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan selama berwisata. Jika kondisi lingkungan khususnya kualitas udara semakin memburuk maka alangkah baiknya menunda atau membatalkan perjalanan. Perhatian serius pemerintah agar persoalan kabut asap tidak berkembang menjadi persoalan baru bagi sektor pariwisata yaitu dengan tetap kontinu melakukan upaya pemadaman sumber-sumber asap pada karhutla, memaksimalkan potensi nakes untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya terpapar kabut asap dan bagaimana penangananya, serta mematangkan kajian dan mitigasinya agar bencana serupa mudah teratasi di kemudian hari apabila terjadi lagi (Yogo).
*) Dr. (Cand.) Prayogo Bagus Kusuma, S.Kel., M.Si. Penulis merupakan Pakar Ekowisata di Kab. Fak-fak, serta Ketua DPC HPI Fak-fak