Dari masker di jalan hingga gerakan masyarakat menjaga hutan, menghadapi karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api
SORONG — Beberapa hari terakhir, kabut asap kembali menjadi pemandangan yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Sorong Raya. Pada pagi dan sore hari, udara tampak berkabut dan jarak pandang di beberapa kawasan terasa berkurang. Fenomena tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas titik panas (hotspot) di Papua Barat Daya serta kondisi musim yang relatif kering.
Pemerintah Kota Sorong melalui Dinas Kesehatan bahkan telah mengambil langkah antisipasi dengan membagikan masker kepada masyarakat pengguna jalan. Pembagian masker dilakukan di kawasan Lampu Merah Maranatha pada Kamis, 1 Oktober 2026, sebagai respons terhadap potensi peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 di udara.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth Windesi, menyampaikan bahwa berdasarkan data BMKG, konsentrasi PM2.5 pada periode 30 September hingga 2 Oktober 2026 diprediksi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat secara umum. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena paparan udara yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk iritasi mata dan kulit serta gangguan pernapasan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah diimbau menggunakan masker. Dinkes juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan apabila tidak mendesak, terutama bayi, balita, lansia, serta warga dengan riwayat asma. Warga yang mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi mata dan kulit juga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
552 Hotspot Terdeteksi di Papua Barat Daya
Persoalan kabut asap tersebut tidak berdiri sendiri. Data yang disampaikan Kepala BMKG Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Ahmad Bisri, menunjukkan bahwa 552 hotspot terpantau di Papua Barat Daya dalam 10 hari terakhir. Sebarannya meliputi 275 titik di Sorong Selatan, 186 titik di Raja Ampat, 34 titik di Maybrat, 31 titik di Kabupaten Sorong, 20 titik di Tambrauw, dan enam titik di Kota Sorong (Dikutpi dari Kompas.com, 2026).
Sepanjang September 2026, jumlah hotspot di Papua Barat Daya disebut telah mencapai sekitar 1.000 titik. Pada saat yang sama, kualitas udara di Kota Sorong berada pada kategori sedang dengan konsentrasi partikulat sekitar 15,6–55,4 µg/m³, sedangkan sejumlah wilayah lain seperti Sorong Selatan, Fakfak, Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikulat 55,5–150,4 µg/m³. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Papua Barat dan Papua Barat Daya tidak dapat dilihat sebagai persoalan yang berdiri sendiri pada satu kabupaten atau kota.

Dari Pemadaman ke Pencegahan: Masyarakat Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Salah satu pendekatan yang patut diperkuat di Sorong Raya adalah pengendalian Karhutla berbasis masyarakat. Pendekatan ini tidak berarti menyerahkan penanganan kebakaran kepada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai mata dan telinga pertama yang dapat mendeteksi asap, titik api, aktivitas pembakaran, serta perubahan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Pengalaman penanganan Karhutla di wilayah lain di Papua menunjukkan bahwa kolaborasi semacam ini bukan sesuatu yang baru. Di Fakfak, misalnya, masyarakat bersama aparat dan BPBD pernah terlibat langsung dalam penanganan kebakaran. Dalam salah satu kejadian di Bomberay, masyarakat ikut melakukan pemadaman menggunakan peralatan sederhana bersama personel Koramil dan BPBD. Artinya, masyarakat bukan hanya kelompok yang terdampak ketika asap datang. Masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem pencegahan.
Model “Masyarakat Peduli Api” Perlu Diperkuat
Untuk wilayah Sorong Raya, pendekatan tersebut dapat dikembangkan melalui beberapa langkah sederhana tetapi konsisten: 🌱 (1.) Membentuk jejaring masyarakat pemantau titik api. Kelompok masyarakat di kampung, kelurahan, dan kawasan yang berbatasan dengan hutan dapat dilibatkan dalam pemantauan lingkungan. Jika terlihat asap atau titik api, informasi dapat segera diteruskan kepada aparat, BPBD, pemadam kebakaran atau pemerintah setempat. 🔥 (2.) Mengurangi pembakaran terbuka: Pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan api perlu menjadi perhatian serius, terutama ketika kondisi vegetasi kering. BMKG sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak meninggalkan api terbuka tanpa pengawasan. 📱 (3.) Menggunakan teknologi untuk pelaporan cepat: Pemantauan hotspot berbasis satelit dapat dikombinasikan dengan laporan masyarakat. Dengan telepon genggam, masyarakat dapat mengirimkan:

Informasi sederhana tersebut dapat membantu mempercepat proses verifikasi lapangan. 🌳 (4.) Melibatkan kampung dan kelompok masyarakat. Pencegahan tidak harus selalu dimulai dari kantor pemerintah. Kampung, kelompok pemuda, komunitas lingkungan, kelompok masyarakat adat, kelompok tani, kelompok nelayan hingga komunitas pecinta alam dapat menjadi bagian dari gerakan bersama menjaga lingkungan. 🎓 (5.) Melibatkan sekolah dan perguruan tinggi: Di sinilah perguruan tinggi dapat mengambil peran. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam edukasi lingkungan, pemetaan daerah rawan kebakaran, kampanye pencegahan, pengumpulan data lapangan hingga kajian dampak Karhutla terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kabut Asap Mengingatkan Kita: Hutan Papua Bukan Sekadar Bentang Alam. Bagi Papua Barat Daya, hutan bukan sekadar hamparan vegetasi. Hutan berkaitan dengan sumber air, keanekaragaman hayati, ruang hidup masyarakat, sumber pangan, budaya, serta masa depan generasi berikutnya. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Yang ikut dipertaruhkan adalah kualitas udara, habitat satwa, keseimbangan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penanganan Karhutla membutuhkan lebih dari sekadar operasi pemadaman ketika api sudah membesar.
Diperlukan pencegahan, edukasi, teknologi, pengawasan, respons cepat dan kolaborasi masyarakat. Kementerian Kehutanan sendiri pada Agustus 2026 menekankan perubahan paradigma pengendalian Karhutla dari pendekatan setelah krisis menuju pencegahan dini yang berfokus pada perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan ini relevan untuk dikembangkan di Papua Barat Daya.
Dari Sorong Raya, Kita Bisa Memulai Gerakan Bersama
Kabut asap yang terlihat pada pagi dan sore hari seharusnya tidak hanya menjadi fenomena yang kita keluhkan. Ia dapat menjadi alarm lingkungan. Alarm bahwa kondisi hutan dan lahan harus lebih diperhatikan. Alarm bahwa masyarakat perlu lebih cepat melaporkan titik api. Alarm bahwa pembakaran terbuka harus semakin dikurangi.
Dan alarm bahwa pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, komunitas serta dunia usaha perlu duduk bersama membangun sistem pencegahan yang lebih kuat. Karhutla bukan hanya urusan petugas pemadam. Karhutla adalah urusan kita bersama. Sebab ketika hutan terbakar, asapnya tidak mengenal batas administrasi. Dan ketika udara tercemar, semua orang ikut menghirupnya.
KABUT ASAP SORONG RAYA | 2026
📍 552 hotspot terpantau di Papua Barat Daya dalam 10 hari terakhir.
📍 275 hotspot di Sorong Selatan.
📍 186 hotspot di Raja Ampat.
📍 31 hotspot di Kabupaten Sorong.
📍 6 hotspot di Kota Sorong.
📍 Sekitar 1.000 hotspot tercatat di Papua Barat Daya sepanjang September 2026.
Imbauan Dinkes Kota Sorong (Dikutip dari Sorongraya.co, 2026):
😷 Gunakan masker ketika harus keluar rumah.
🏠 Kurangi aktivitas luar ruangan jika tidak mendesak.
💧 Cukupi kebutuhan air.
🌿 Jaga kondisi tubuh dan konsumsi makanan bergizi.
🏥 Segera periksa jika mengalami batuk, sesak napas atau iritasi mata/kulit